Terbalut kabut
Boy
sandy
Berdiri mengangkang kepal dendam
Menantang bisikan iblis
Gugah
kiblat Ilahi
Hitam menjelma dalam sujud
Lafaz
suci hening di sisi dunia
Aura nirwana
tampak pudar
Bayangi kontras latar bumi
Kidal mengilhami denting waktu
Bersinar bintang mencicipi malam
Meneguk keruh embun pagi
Tak peduli sengat surya bara
neraka
Resah sesal jilat pahit awan
Mencaci langit tak mampu
menjerit
Dekap kusam mewakau lelap
Pagi binar sadar ketakutan
Makassar,
3 februari 2009
Sisa-sisa perang teluk
Boy sandy
Hujan tak henti membasahi peraduan
Suara gemuruh getarkan dunia
Angin guncang dedaunan
Kusulam warna pelangi dibalik
keterasingan
Dibilik gubuk terbaca kalimat mati
suri
Coba resapi desir angin hari itu
Namun kejenuhan rasuki puing-puing
yang masih berdebu
Badai enggan berlalu padahal musim
telah berganti
Dan jiwa semakin ternoda oleh
kecaman suara-suara seberang
Lapukan cerita masih tertulis rapi
diantara lumpur dan kotoran yang berbau
Meskipun pesona
laut kian bersua dengan kasihnya
Kini hanya senyum menjadi
auraku
Walau aku
lahir dari sisa-sisa perang teluk
Makassar, 26
april 2009
Kosong
Boy sandy
Pelangi masih
terlalu jauh
Tak teraba
belai jemari
Bawa asa
angka satu
Titipan telaga
dewa amor
Langkah demi
langkah arungi waktu
Kejar yang
indah kian menjauh
Tak peduli
peluh cabik sukma
Karena hati
bertahta disana
Kecam insan
terngiang dipenjuru dunia
Lantunkan lagu
manusia bodoh
Tikam jiwa
penuh ambisi
Seakan tak
percaya tentang ini
Salir darah
tetap mengalir
Tepis kalimat
bisikan iblis
Harap miliki
tulang iga betina
Lengkapi raga
tercabik sepi
Entah kapan
kisah ini berakhir
Entah kemana
selami cerita ini
Haruskah tetap
lari tanpa arah
Atau menunggu
keajaiban hadir dipundak
Makassar,
02 januari 2009
Perempuanku
Boy
sandy
Terlihat bening kontras mega
Ciptakan gerah dalam hati
Langkah terlunta-lunta
Saksikan lenggok bahasa netra
Deru asanya dahsyat mengalun
Rasuki puing-puing
sukma
Namun terbatas
isyarat rindu
Kalimat indah menyapa kabut
Penyejuk hasrat terpendam
Bersandar pada dilema
malam
Letih menunggu pagi
mendekap
Makassar, 24 maret
2009
I win you lose
Boy sandy
Kita memang berbeda
Engkau elok dan aku kusam
Tapi itulah perbedaan
Mungkin matamu hanya memandang
sebelah
Dari poster yang kau anggap
sebagai lawan
Karena bagimu aku hanya di ujung
kuku
Namun dengan senyum kuanyam diam
Langkah terus kuayun bersama
rangkulan mereka
Sambil memungut celoteh palsu
Sebagai santapan strategi perang
Hari yang kita nanti telah tiba
Kepantasan mulai dibahas
Meski panas kadang menyengat
Tapi tak membuat aku mundur
Akhirnya malam itu berakhir juga
Tanganku masih panjang dengan
tanganmu
Walau kau tak setuju hal ini
Tapi harus kau akui bahwa aku
yang menang
Makassar,
14 agustus 2009
Duniamu
Boy sandy
Potret ayu terbalut sepi
Perlahan terasing tikam raga
Puing mesra terbatas isyarat
dendam
Karena gerbang disana enggan
menoleh
Angin berhembus dengan
sendirinya
Membantah sapaan mendung ingin
turunkan hujan
Ada kalimat hati untuk bertahan
Padahal lapukan cerita masih menggebu
Mungkin pelangi masih hitam dengan kebohongan
Dilema asa dua arah kekaburan
Takut dan ragu petik angka satu
Karena yang bertahta sepicis
rasa
Makassar,
16 oktober 2009
Aku, kau dan dia
Boy sandy
Selembar pesan kata hati
Menyengat cabik iga betina
Bertanya keberadaan rasanya
Terjawab kebalikan yang
disuguhkan
Tereja sedih rona raga
Dengan kalimat enggan terbaca
Kebingungan hampakan sukma
Karena terganggu yang dimiliki
Lirikan pudar tersentuh amarah
Memaksa maknai lapukan cerita
Pastikan tulisan titipan silam
Umpan balik jadi andalan
Berharap mengoles yang terkikis
Menjadi dendangan hariku dan
harimu
Makassar, 14 november 2009
Musafir Cinta
Boy
sandy
Kering berdebu...
Aku beranjak mencari pembawa
segalanya
Tak satu arah pemberi senyum
Kering berdebu...
Aku mencari kedamaian hati
Tak seorang menoleh dengan sukma
Lelah pengat...
Disujudku kutelusuri dengan
rindu
Harap bayang itu kukepal dengan
nyata
Pucat berdaki...
Kontrasku terbawa keajaiban
Karena rasa ini adalah anugrah
Makassar,
4 Februari 2009
Gadis Ternoda
Boy sandy
Seorang wanita bercermin pada
kenangannya
Mencari lapukan kisahnya
Namun ia kesulitan untuk kembali
ke pengaturan awal karena lelaki itu sudah milik yang
lain
Pikirannya mulai berubah bahwa
adegan dengan lelaki yang dicintainya waktu itu telah merenggut masa depannya
dan dalam hatinya bertanya ” aku harus bagaimana, semuanya telah hancur ”?
Perilaku konyolnya telah
nampak....
Ia tersipu-tersipu memakai
pakaian yang memamerkan kedua paha dan setengah payu daranya, lalu dia
berkelana mencari kucing yang haus dengan isi celana dalamnya tanpa peduli
kalau orang-orang menyebutnya sebagai ”lonte”
Peristiwa bergulir dengan sebuah
permainan
Dari tempat seberang, ketempat
yang lain
Ada yang gratis dan ada pula
yang memberi makan
Ada membayar puluhan dan ada
pula yang membayar ratusan
Mulai dari perjaka, pengangguran,
pegawai negeri
sampai yang berambut putih
tanpa mengenal wajah mereka
Permainan itu terus terngiang di telinga
mereka
Bahkan sebagai koran sarapan
pagi mereka
Akhirnya ia pergi
Dimana orang-orang tidak
mencacinya
Dimana orang-orang tak peduli
padanya
Sekejap jejaknya tak lagi
terbaca
Meninggalkan sebuah pertanyaan
bagi mereka dan pelanggannya
Disuatu hari terdengar berita
bahwa ia disuatu tempat
dimana para wanita disebut
dengan ”pelacur".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar